Senin, 30 Maret 2015

KEBUDAYAAN REOG PONOROGO SEBAGAI WARISAN DUNIA

Standard

KEBUDAYAAN REOG PONOROGO SEBAGAI WARISAN DUNIA


Sebelum membahas lebih jauh terlebih dahulu kita membahas sejarah dari reog itu sendiri.

Kesenian reog sudah ada di Indonesia sejak sekitar tahun 1920-an
Warisan Seni Budaya Asli Ponorogo
Lokasi: Ponorogo
Unsur Budaya Ponorogo yang Hampir Hilang
Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Kesenian ini lahir dari budaya setempat yang masih kental dengan unsur mistik dan kebatinan. Tidak ada yang tahu pasti kapan kesenian ini muncul dan berkembang, tapi terdapat foto dokumentasi yang memperlihatkan kesenian ini sudah ada sejak tahun 1920-an. Inilah reog, kesenian yang berasal dari Jawa Timur, tepatnya dari wilayah Ponorogo.

Berikut adalah penggambaran contoh reog:





















Reog Ponorogo ini adalah salah satu dari sekian banyak kekayaan kebudayaan nusantara yang harus dijaga dan dilestarikan, karena reog Ponorogo merupakan hasil karya perenungan seseorang terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya. Mari cintai reog Ponorogo. Jangan sampai kesenian tradisi milik Indonesia ini menjadi ‘tamu’ di rumahnya sendiri.

contoh berita tentang reog
Festival Reog Mini, Melestarikan Warisan Budaya Leluhur
Festival Reog Mini, Melestarikan Warisan Budaya LeluhurFestival Reog Mini/Hendras Setiawan
Ponorogo - Reog, adalah salah satu kesenian tradional asal Kabupaten Ponorogo. Agar kesenian asli ini tidak punah, Pemkab Ponorogo mencoba melakukan regenerasi dengan menggelar Festival Reog Mini.

Festival Reog dalam rangka HUT Kabupaten Ponorogo ke 517 ini diikuti 28 kelompok Reog dari kota Ponorogo maupun luar kota.

Ratusan bocah dari beberapa daerah ini pun mencoba menampilkan tarian Reog dengan kreasi masing-masing, dan berusaha menjadi yang terbaik.

"Kita gelar selama beberapa hari, dalam rangka memperingati hari jadi Ponorogo tahun ini," kata Wakil Bupati Ponorogo Yuni Widianingsih, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (11/9/2013).

Menurut Ida, Festival Reog Mini ini selain sebagai upaya untuk melestarikan budaya reog sejak usia dini, juga sebagai bentuk penghargaan kepada anak-anak dan remaja Ponorogo dan sekitarnya, yang selama ini menggeluti dunia seni khususnya Reog ponorogo.

"Festival ini sekaligus untuk regenerasi, agar kesenian reog yang kita cintai ini tidak pudar ditelan zaman," imbuhnya.
Reog mini ini secara umum tidaklah berbeda dengan reog profesional. Yang membedakan hanyalah ukuran barongan dan dadak meraknya saja, yang memang didesign agak kecil dibanding reog professional.
From: detiknews
Kita semua tahu beberapa tahun terakhir tetangga kita Malaysia meng-klaim Reog ini sebagai Budaya asli negara tersebut, oleh karena itu kita sebagai rakyat dari negara Indonesia harus melestarikan budaya ini. Menurut saya ada beberapa cara untuk mempopulerkan atau melestarikan Reog Ponorogo sebagai warisan dunia tepatnya dari negara kita Indonesia:
Seperti contoh di atas adalah salah satu contoh dari Pemkab Ponorogo yang mengadakan fesival Reog mini untuk melestarikan budaya Indonesia
Dan juga memasukkan secara wajib pemerintah kedalam kurikulum pembelajaran di daerah masing masing dan diadakan nya penelitian lanjutan pada sub kebudayaan tersebut. Pemerintah secara gencar memamerkan dan memperkenalkan kepada dunia bahwa reog adalah kebudayaan asli Indonesia dengan pergelaran budaya dinegara asing. Serta mewajibkan daerah masing masing budaya untuk melakukan promosi secara besar besaran ke semua tempat baik dalam maupun luar negeri. Dan pemerintah berusaha dengan keras agar budaya daerah kita menjadi warisan dunia dan di sahkan di badan dunia sebagai kebudayaan asli indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan semua lapisan masyarakat.
Saya sebagai penulis berharap agar kesenian-kesenian asli negara Indonesia tetap bisa bertahan sebagai warisan dunia, dan tidak di klaim negara lain.


0 komentar:

Poskan Komentar